Di
atas singgasana kerajaan Brenggala Pura, Raja Giwang tengah gelisah menunggu
kedatangan Pangeran Paripurna sang putra mahkota yang ditugaskan memimpin
perang. Sementara itu, Pangeran Amonglena adik Raja Giwang, Patih Sarpa, dan Raden
Dewantaka anak Patih Sarpa sangat berharap Pangeran Paripurna gugur di medan
perang. Kira-kira tengah hari datanglah seorang prajurid melapor bahwa Pangeran
Paripurna berhasil menumpas musuh negara dengan kemenangan gilang gemilang.
Kemenangan Pangeran Paripurna disambut dengan kemeriahan pesta kenegaraan
selama 3 hari 3 malam.
Dalam
bilik gelap remang-remang sudut lain istana Brenggala Pura, Amonglena, Sarpa,
dan Dewantaka menyusun siasat kudeta yang kedua. Keputusan rapat menugaskan
Dewantaka membunuh Paripurna, apabila gagal, harus mengusahakan menggiring
Paripurna ke taman Kepatihan untuk dipertemukan dengan Dewi Rumpaka putri
bungsu Patih Sarpa. Kebetulan sekali bahwa Paripurna telah lama menjalin
hubungan cinta dengan Rumpaka. Banyaknya tugas yang diemban Paripurna membuat
mereka jarang bertemu. Bisa dibayangkan betapa
tebalnya rindu mereka. Amonglena bertugas merayu prameswari Kamasmara, ibu tiri
Paripurna yang telah sekian lama tidak merasakan belaian laki-laki, karena Raja
Giwang telah lanjut usia. Tujuannya adalah menghasut Kamasmara agar bersedia
membunuh Raja Giwang dengan cara yang rapi. Jika kedua rencana berjalan lancar,
tak ayal lagi Amonglenalah pengganti tahta kerajaan Brenggala.
Lepas
senjakala bermandikan air mata langit, kilatan petir menyambar sudut-sudut
cakrawala, Amonglena mendatangi Kamasmara yang terlihat selalu bermurung durja.
Basa-basi berujung rayuan Amonglena yang menjanjikan kepuasan lahir dan batin
kepada Kamasmara yang tidak bisa diberikan oleh Raja Giwang suaminya. Laksana
tembok kokoh terhantam amuk samudra, robohlah benteng kesetiaan sang dewi...
Kobaran api nafsu membungkam semua suara, butalah mata, tulilah telinga. Api
asmara membakar habis soko guru nalar Kamasmara. Sejenak kemudian...
Amonglena
menyelesaikan adegan itu secara sepihak. Bisa dibayangkan betapa menderitanya
Kamasmara dalam kungkungan api nafsunya yang kian berkobar-kobar. Amonglena
berjanji sanggup meneruskan sampai kapanpun apabila Kamasmara sanggup
menyingkirkan Raja Giwang yang nyata-nyata akan menghalangi hubungan cinta
keduanya. Kamasmara menyanggupi. Amonglena menyarankan agar Kamasmara
menuangkan racun yang sudah disediakan Amonglena ke dalam minuman Raja Giwang
pada malam berikutnya yang telah disepakati.
Malam
hari berikutnya, tatkala langit berselimut mega-mega hitam nan tebal, Dewantaka
memerintahkan tiga pembunuh bayaran mengakhiri hidup Paripurna yang sedang
merenung di teras loji Kepangeranan. Para pembunuh segera melanjarkan serangan,
namun Paripurna lebih sigap dan berhasil menumpas dua orang. Seorang pembunuh
berhasil ditangkap dan hendak diinterogasi siapa yang menyuruhnya. Tiba-tiba
sebatang anak panah menancap di sisi belakang jantung si pembunuh. Dewantaka
datang tergopoh-gopoh mengaku bahwa dirinyalah yang melepaskan anak panah
dengan dalih menyelamatan Paripurna yang dikira terancam maut. Dewantaka merayu
Paripurna agar singgah di taman kepatihan, sebab adiknya si Rumpaka sangat
merindukan kedatangan Paripurna. Usaha pembunuhan berencana yang baru saja
terjadi, Dewantaka menyatakan sanggup untuk mengurusnya. Rupa-rupanya paripurna
termakan bujukan Dewantaka. Iapun melesat menuju taman Kepatihan menemui
kekasihnya...
Di
sudut lain di dalam istana, pada waktu yang tidak berselang lama dengan
kepergian Paripurna, tiba-tiba saja terdengar rintih kesakitan dengan suara
serak mencekik dari dalam istana. Raja Giwang terkapar terkulai tak bernyawa dengan
tubuh pucat membiru. Hidung dan telinganya bercucuran darah matang, busa
menyumpal memenuhi mulut. Kamasmara segera bermain watak, ia menjerit kencang
merebut perhatian seisi istana. Malam itu juga istana penuh dengan para sentana
kerajaan. Brenggala Pura bagaikan terkena badra
wirawan, rembulan berselimut mendung hitam. Amonglena memerintahkan semua pejabat
istana untuk menyiapkan segala kebutuhan pemakaman sang Raja.
Taman
kepatihan menjadi saksi bisu asmaramuda Paripurna dan Rumpaka. Tiba-tiba datang
patih Sarpa memberitahukan tentang kematian Sang Raja. Betapa hancur hati
Paripurna mendengarnya, iapun segera bertolak ke istana bersama Sarpa, Rumpaka,
dan diikuti beberapa pengawal dari kepatihan.
Berselang
hari setelah pemakaman agung, Patih Sarpa membuka sidang istimewa di baleirung
Brenggala Pura disaksikan Singgasana kosong nan bisu. Untuk mengisi tahta yang
kosong, sidang darurat memutuskan mengangkat Pangeran Amonglena sebagai raja
baru di kerajaan Brenggala Pura menggantikan Raja Giwang. Bisa ditebak dalam sidang
putusan itu penuh bisik-bisik bak suara lebah mewacanakan keganjilan yang penuh
intrik politik. Itu hanyalah angin lalu. Raja Amonglena berdiri, berjalan
menuju singgasana dan duduk megah di atasnya seraya bertitah 1) mengangkat Dewi
Kamasmara menjadi permaisurinya, 2) mengangkat Patih Sarpa sebagai patih seumur
hidupnya sampai dengan keturunannya.
Paripurna
tampil ke depan mohon perkenan untuk melantunkan kidung keselamatan bagi raja baru. Setelah mendapat perkenan dari
raja, iapun memulai membaca kidung. Inti
Kidung Paripurna berisi cerita
tentang perselingkuhan seorang istri muda yang berujung pembunuhan dengan cara
meracuni suaminya yang sah. Kini dalang pembunuhan itu menikmati semua yang
ditinggalkan oleh suami naas itu. Betapa marah raja Amonglena mendengarnya,
segera ia memerintah algojo kerajaan menyeret Paripurna keluar dari baleirung
istana. Karena kejadian ini, pertemuan darurat dibubarkan.
Pagi
hari berikutnya, Patih Sarpa meminta ijin Raja Amonglena untuk mengintrogasi
Kamasmara yang dicurigai membocorkan pembunuhan berencana tersebut kepada
Paripurna. Setelah mendapat ijin, Sarpa bertandang mendatangi kediaman
Kamasmara. Terjadi dialog menegangkan antara Sarpa dan Kamasmara. Sarpa
menghunus keris sembari mengancam Kamasmara agar tutup mulut, jika tidak, maka
Kamasmara akan dibunuh. Kamasmara dalam ketakutannya bersumpah bahwa ia tidak
pernah membocorkan dalang dibalik peristiwa pembunuhan itu, karena ia sendiri
terlibat...
Kebetulan
adalah suratan Sang Takdir dan kebenaran tidak pernah menutup mulut. Paripurna
yang kebetulan datang ke tempat itu untuk meminta keterangan dari mantan ibu
tirinya yaitu Dewi Kamasmara tentang kejadian yang menimpa ayahnya, melihat
adegan yang terjadi di kediaman Kamasmara. Kebetulan lainnya Paripurna tidak
melihat wajah pria yang mengacungkan senjata ke Kamasmara. Dengan gesit
paripurna melemparkan belati dan tepat menancap di punggung Sarpa tembus sampai
ke jantung. Seisi istana geger karena peristiwa itu. Raja Amonglena datang
penuh amarah kepada Paripurna. Hari itu juga segera digelar sidang istimewa di
baleirung. Paripurna membela diri bahwa yang dia lakukan semata-mata hanya
menyelamatkan nyawa Kamasmara dari ancaman maut yang ternyata adalah ulah Patih
Sarpa. Dewantaka yang telah mendengar laporan tentang kematian ayahnya segera
mendatangi tempat persidangan Paripurna. Tanpa basa-basi Dewantaka
menggelandang Paripurna. Duel maut terjadi antara dua kesatria pilih tanding.
Karena terdesak, Dewantaka mencabut kerisnya yang mengkilap penuh bisa.
Berkali-kali Paripurna terkena sayatan keris beracun Dewantaka, namun ia tetap
tegak berdiri tak henti melancarkan serangan balik. Raja Amonglena segera berbisik
memerintah Kamasmara supaya segera menyiapkan minuman beracun untuk diberikan
ke Paripurna, sebab ia tahu bahwa Dewantaka pasti mati di tangan Paripurna. Tak
lama kemudian terdengar teriakan berat di baleirung. Leher Dewantaka tertikam
keris pusakanya yang berhasil direbut Paripurna. Darah mengucur deras ketika
keris dicabut oleh Paripurna. Dewantaka roboh teriring suara gema bergemuruh
menghantam dinding dan langit-langit baleirung.
Seisi
baleirung hanya diam ternganga menyaksikan peristiwa itu. Paripurna berjalan
sempoyongan menyandarkan diri di tiang baleirung. Dengan sisa keberanian yang
dipaksakan, Raja Amonglena dan Permaisuri Kamasmara yang sudah membawa minuman
beracun mendatangi Paripurna yang tubuhnya berlumuran darah. Mereka memuji
kehebatan Paripurna. Amonglena mengatakan bahwa Paripurna memang pantas menjadi
Raja di Brenggala Pura, dan memang itu haknya, Amonglena hanyalah raja wakil,
raja sementara. Amonglena memberikan minuman yang dibawa oleh Kamasmara kepada
Paripurna untuk mengurangi letih dan dahaga. Paripurna terharu, sembari
mengucapkan terimakasih. Ketika paripurna hendak meminumnya, tiba-tiba Dewi
Kamasmara merebut minuman dalam cawan itu dan berkata lantang tentang apa yang
sesunggunya terjadi di istana, bahwa sesungguhnya dalang dibalik kejadian keji
ini adalah Amonglena, Sarpa, dan Dewantaka. Dirinyapun ikut terlibat. Kini
semua tinggal penyesalan. Untuk membuktikan bahwa minuman itu benar-benar
beracun, dan merupakan racun yang sama yang diminum oleh Raja Giwang, Kamasmara
meminum minuman itu. Kamasmara jatuh tersungkur dengan kondisi tubuh sama
seperti kematian Raja Giwang. Setelah mengetahui yang sebenarnya terjadi,
dengan sisa-sisa tenaga paripurna melompat menikamkan keris yang dibawanya ke
dada Amonglena. Dengan membabi buta ditikamnya jantung Amonglena berkali-kali. Berbekal
sisa-sisa nafas dan tenaganya, Amonglena mencabut keris yang dibawa,
dihunjamkan ke ulu hati Paripurna. Amonglena tewas tercabik-cabik.
Paripurana
yang tubuhnya telah bersimbah darah dan digerogoti oleh bisa racun keris
Dewantaka, ulu hatinyapun telah buntas oleh keris Amonglena pamannya, dengan
sisa tenaga ia merangkak meraih singgasana kerajaan diiringi segenap yang ada
di baleirung. Paripurna berhasil meraih singgasana dan duduk di atasnya.
Seketika itu juga Pangeran muda Paripurna menghembuskan nafas terakhirnya. Raja
paripurna duduk terkulai lemas tak bernyawa di atas kursi singgasana agung
kerajaan Brenggala Pura. Semua yang ada di baleirung duduk tersungkur memberi penghormatan
terakhir kepada rajanya...
Surem-surem diwangkara kingkin
Lir manguswa kang layon
Denya ilang memanise...
Wadananira layu kumel kucem
Rahnya maratani ing sariranipun
KIDUNG PARIPURNA
http://arifhartarta.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar