Jumat, 10 Februari 2012

CERPEN : Takhta Berdarah


CERPEN LAMBANG JIWA
TAHTA BERDARAH
Karya  : Arif  Hartarta *


Di atas singgasana kerajaan Brenggala Pura, Raja Giwang tengah gelisah menunggu kedatangan Pangeran Paripurna sang putra mahkota yang ditugaskan memimpin perang. Sementara itu, Pangeran Amonglena adik Raja Giwang, Patih Sarpa, dan Raden Dewantaka anak Patih Sarpa sangat berharap Pangeran Paripurna gugur di medan perang. Kira-kira tengah hari datanglah seorang prajurid melapor bahwa Pangeran Paripurna berhasil menumpas musuh negara dengan kemenangan gilang gemilang. Kemenangan Pangeran Paripurna disambut dengan kemeriahan pesta kenegaraan selama 3 hari 3 malam.
Dalam bilik gelap remang-remang sudut lain istana Brenggala Pura, Amonglena, Sarpa, dan Dewantaka menyusun siasat kudeta yang kedua. Keputusan rapat menugaskan Dewantaka membunuh Paripurna, apabila gagal, harus mengusahakan menggiring Paripurna ke taman Kepatihan untuk dipertemukan dengan Dewi Rumpaka putri bungsu Patih Sarpa. Kebetulan sekali bahwa Paripurna telah lama menjalin hubungan cinta dengan Rumpaka. Banyaknya tugas yang diemban Paripurna membuat mereka jarang bertemu. Bisa dibayangkan betapa tebalnya rindu mereka. Amonglena bertugas merayu prameswari Kamasmara, ibu tiri Paripurna yang telah sekian lama tidak merasakan belaian laki-laki, karena Raja Giwang telah lanjut usia. Tujuannya adalah menghasut Kamasmara agar bersedia membunuh Raja Giwang dengan cara yang rapi. Jika kedua rencana berjalan lancar, tak ayal lagi Amonglenalah pengganti tahta kerajaan Brenggala.
Lepas senjakala bermandikan air mata langit, kilatan petir menyambar sudut-sudut cakrawala, Amonglena mendatangi Kamasmara yang terlihat selalu bermurung durja. Basa-basi berujung rayuan Amonglena yang menjanjikan kepuasan lahir dan batin kepada Kamasmara yang tidak bisa diberikan oleh Raja Giwang suaminya. Laksana tembok kokoh terhantam amuk samudra, robohlah benteng kesetiaan sang dewi... Kobaran api nafsu membungkam semua suara, butalah mata, tulilah telinga. Api asmara membakar habis soko guru nalar Kamasmara. Sejenak kemudian...
Amonglena menyelesaikan adegan itu secara sepihak. Bisa dibayangkan betapa menderitanya Kamasmara dalam kungkungan api nafsunya yang kian berkobar-kobar. Amonglena berjanji sanggup meneruskan sampai kapanpun apabila Kamasmara sanggup menyingkirkan Raja Giwang yang nyata-nyata akan menghalangi hubungan cinta keduanya. Kamasmara menyanggupi. Amonglena menyarankan agar Kamasmara menuangkan racun yang sudah disediakan Amonglena ke dalam minuman Raja Giwang pada malam berikutnya yang telah disepakati.
Malam hari berikutnya, tatkala langit berselimut mega-mega hitam nan tebal, Dewantaka memerintahkan tiga pembunuh bayaran mengakhiri hidup Paripurna yang sedang merenung di teras loji Kepangeranan. Para pembunuh segera melanjarkan serangan, namun Paripurna lebih sigap dan berhasil menumpas dua orang. Seorang pembunuh berhasil ditangkap dan hendak diinterogasi siapa yang menyuruhnya. Tiba-tiba sebatang anak panah menancap di sisi belakang jantung si pembunuh. Dewantaka datang tergopoh-gopoh mengaku bahwa dirinyalah yang melepaskan anak panah dengan dalih menyelamatan Paripurna yang dikira terancam maut. Dewantaka merayu Paripurna agar singgah di taman kepatihan, sebab adiknya si Rumpaka sangat merindukan kedatangan Paripurna. Usaha pembunuhan berencana yang baru saja terjadi, Dewantaka menyatakan sanggup untuk mengurusnya. Rupa-rupanya paripurna termakan bujukan Dewantaka. Iapun melesat menuju taman Kepatihan menemui kekasihnya...
Di sudut lain di dalam istana, pada waktu yang tidak berselang lama dengan kepergian Paripurna, tiba-tiba saja terdengar rintih kesakitan dengan suara serak mencekik dari dalam istana. Raja Giwang terkapar terkulai tak bernyawa dengan tubuh pucat membiru. Hidung dan telinganya bercucuran darah matang, busa menyumpal memenuhi mulut. Kamasmara segera bermain watak, ia menjerit kencang merebut perhatian seisi istana. Malam itu juga istana penuh dengan para sentana kerajaan. Brenggala Pura bagaikan terkena badra wirawan, rembulan berselimut mendung hitam. Amonglena memerintahkan semua pejabat istana untuk menyiapkan segala kebutuhan pemakaman sang Raja.
Taman kepatihan menjadi saksi bisu asmaramuda Paripurna dan Rumpaka. Tiba-tiba datang patih Sarpa memberitahukan tentang kematian Sang Raja. Betapa hancur hati Paripurna mendengarnya, iapun segera bertolak ke istana bersama Sarpa, Rumpaka, dan diikuti beberapa pengawal dari kepatihan.
Berselang hari setelah pemakaman agung, Patih Sarpa membuka sidang istimewa di baleirung Brenggala Pura disaksikan Singgasana kosong nan bisu. Untuk mengisi tahta yang kosong, sidang darurat memutuskan mengangkat Pangeran Amonglena sebagai raja baru di kerajaan Brenggala Pura menggantikan Raja Giwang. Bisa ditebak dalam sidang putusan itu penuh bisik-bisik bak suara lebah mewacanakan keganjilan yang penuh intrik politik. Itu hanyalah angin lalu. Raja Amonglena berdiri, berjalan menuju singgasana dan duduk megah di atasnya seraya bertitah 1) mengangkat Dewi Kamasmara menjadi permaisurinya, 2) mengangkat Patih Sarpa sebagai patih seumur hidupnya sampai dengan keturunannya.
Paripurna tampil ke depan mohon perkenan untuk melantunkan kidung keselamatan bagi raja baru. Setelah mendapat perkenan dari raja, iapun memulai membaca kidung. Inti Kidung Paripurna berisi cerita tentang perselingkuhan seorang istri muda yang berujung pembunuhan dengan cara meracuni suaminya yang sah. Kini dalang pembunuhan itu menikmati semua yang ditinggalkan oleh suami naas itu. Betapa marah raja Amonglena mendengarnya, segera ia memerintah algojo kerajaan menyeret Paripurna keluar dari baleirung istana. Karena kejadian ini, pertemuan darurat dibubarkan.
Pagi hari berikutnya, Patih Sarpa meminta ijin Raja Amonglena untuk mengintrogasi Kamasmara yang dicurigai membocorkan pembunuhan berencana tersebut kepada Paripurna. Setelah mendapat ijin, Sarpa bertandang mendatangi kediaman Kamasmara. Terjadi dialog menegangkan antara Sarpa dan Kamasmara. Sarpa menghunus keris sembari mengancam Kamasmara agar tutup mulut, jika tidak, maka Kamasmara akan dibunuh. Kamasmara dalam ketakutannya bersumpah bahwa ia tidak pernah membocorkan dalang dibalik peristiwa pembunuhan itu, karena ia sendiri terlibat...
Kebetulan adalah suratan Sang Takdir dan kebenaran tidak pernah menutup mulut. Paripurna yang kebetulan datang ke tempat itu untuk meminta keterangan dari mantan ibu tirinya yaitu Dewi Kamasmara tentang kejadian yang menimpa ayahnya, melihat adegan yang terjadi di kediaman Kamasmara. Kebetulan lainnya Paripurna tidak melihat wajah pria yang mengacungkan senjata ke Kamasmara. Dengan gesit paripurna melemparkan belati dan tepat menancap di punggung Sarpa tembus sampai ke jantung. Seisi istana geger karena peristiwa itu. Raja Amonglena datang penuh amarah kepada Paripurna. Hari itu juga segera digelar sidang istimewa di baleirung. Paripurna membela diri bahwa yang dia lakukan semata-mata hanya menyelamatkan nyawa Kamasmara dari ancaman maut yang ternyata adalah ulah Patih Sarpa. Dewantaka yang telah mendengar laporan tentang kematian ayahnya segera mendatangi tempat persidangan Paripurna. Tanpa basa-basi Dewantaka menggelandang Paripurna. Duel maut terjadi antara dua kesatria pilih tanding. Karena terdesak, Dewantaka mencabut kerisnya yang mengkilap penuh bisa. Berkali-kali Paripurna terkena sayatan keris beracun Dewantaka, namun ia tetap tegak berdiri tak henti melancarkan serangan balik. Raja Amonglena segera berbisik memerintah Kamasmara supaya segera menyiapkan minuman beracun untuk diberikan ke Paripurna, sebab ia tahu bahwa Dewantaka pasti mati di tangan Paripurna. Tak lama kemudian terdengar teriakan berat di baleirung. Leher Dewantaka tertikam keris pusakanya yang berhasil direbut Paripurna. Darah mengucur deras ketika keris dicabut oleh Paripurna. Dewantaka roboh teriring suara gema bergemuruh menghantam dinding dan langit-langit baleirung.
Seisi baleirung hanya diam ternganga menyaksikan peristiwa itu. Paripurna berjalan sempoyongan menyandarkan diri di tiang baleirung. Dengan sisa keberanian yang dipaksakan, Raja Amonglena dan Permaisuri Kamasmara yang sudah membawa minuman beracun mendatangi Paripurna yang tubuhnya berlumuran darah. Mereka memuji kehebatan Paripurna. Amonglena mengatakan bahwa Paripurna memang pantas menjadi Raja di Brenggala Pura, dan memang itu haknya, Amonglena hanyalah raja wakil, raja sementara. Amonglena memberikan minuman yang dibawa oleh Kamasmara kepada Paripurna untuk mengurangi letih dan dahaga. Paripurna terharu, sembari mengucapkan terimakasih. Ketika paripurna hendak meminumnya, tiba-tiba Dewi Kamasmara merebut minuman dalam cawan itu dan berkata lantang tentang apa yang sesunggunya terjadi di istana, bahwa sesungguhnya dalang dibalik kejadian keji ini adalah Amonglena, Sarpa, dan Dewantaka. Dirinyapun ikut terlibat. Kini semua tinggal penyesalan. Untuk membuktikan bahwa minuman itu benar-benar beracun, dan merupakan racun yang sama yang diminum oleh Raja Giwang, Kamasmara meminum minuman itu. Kamasmara jatuh tersungkur dengan kondisi tubuh sama seperti kematian Raja Giwang. Setelah mengetahui yang sebenarnya terjadi, dengan sisa-sisa tenaga paripurna melompat menikamkan keris yang dibawanya ke dada Amonglena. Dengan membabi buta ditikamnya jantung Amonglena berkali-kali. Berbekal sisa-sisa nafas dan tenaganya, Amonglena mencabut keris yang dibawa, dihunjamkan ke ulu hati Paripurna. Amonglena tewas tercabik-cabik.
Paripurana yang tubuhnya telah bersimbah darah dan digerogoti oleh bisa racun keris Dewantaka, ulu hatinyapun telah buntas oleh keris Amonglena pamannya, dengan sisa tenaga ia merangkak meraih singgasana kerajaan diiringi segenap yang ada di baleirung. Paripurna berhasil meraih singgasana dan duduk di atasnya. Seketika itu juga Pangeran muda Paripurna menghembuskan nafas terakhirnya. Raja paripurna duduk terkulai lemas tak bernyawa di atas kursi singgasana agung kerajaan Brenggala Pura. Semua yang ada di baleirung duduk tersungkur memberi penghormatan terakhir kepada rajanya...
Surem-surem diwangkara kingkin
Lir manguswa kang layon
Denya ilang memanise...
Wadananira layu kumel kucem
Rahnya maratani ing sariranipun

KIDUNG PARIPURNA
http://arifhartarta.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar